Minggu, 09 Mei 2010

surga dunia dalam pelukan

Kini karena Dulu
Kadang-kadang rasanya aku hanya ingin menangis. Bahkan saat dia sedang berada di sebelahku atau saat aku berada di dalam pelukannya. Betapa menakutkannya tidak mengetahui masa depan dari sesuatu. Atau apakah itu sesuatu yang bagus? Aku takut membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya. Kadang rasanya aku sudah begitu siap untuk menghabiskan sisa hidupku dengannya. Mungkin terdengar bodoh, namun 

kadang hanya itu yang sungguh aku yakini.
Kadang rasanya hati ini, tubuh ini penuh dengan sesuatu yang tidak bisa aku sendiri definisikan. Bahkan tidak sanggup aku hadapi sendirian. Aku merasa begitu kecil, untuk dapat merasakan sesuatu yang sebesar ini. Perasaan yang begitu kuat. Tidak lagi sebatas ingin memiliki, namun lebih kepada sudah menjadi. Pikiranku, perasaanku, keputusanku, semua mengandung dia. Dia ada dalam setiap hembusan dan tarikan nafasku. Sungguh, kadang rasanya demikian.
Dia mengalir di dalam darahku. Diriku penuh dengan dia. Tawanya, marahnya, gilanya, mimpinya, suaranya, takutnya, baunya, cumbunya, semuanya. Dia ada di dalam aku. Sebagaimanapun aku berusaha menolaknya, dia sudah meracuni aku. Tapi aku tidak akan mati. Racun yang ini, semoga, hanya akan membuatku lebih mengerti cinta. Tidak ada yang lebih aku inginkan daripada sungguh memahami arti mencintai. Yang tidak lagi terbatas pada aku, aku, dan aku.
Kadang aku merasa telah menghabiskan terlalu banyak tenaga dan waktu untuk mati-matian menolakmu. Menyangkal kehadiranmu dalam nafas dan nadiku, namun kini aku mengaku kalah. Saat aku berusaha tidak memikirkanmu pun, jantungku tetap berdetak karena aku mencintai kamu. Aku tidak mungkin menolak rasa yang sekuat itu. Kamu sudah berada di setiap titik dalam tubuh fanaku, dan terutama di tiap rongga yang membuat aku mampu merasakan nikmatnya amarah, nafsu, dan bahagia. Kamu ada di setiap unsur yang menjadikan aku manusia. Manusia yang berani mencinta.
Aku jatuh cinta... Jatuh dengan parah, menabrak tembok, dan kini siap masuk jurang....
***
Cita yang Dulu
Dulu aku berharap bisa merasakan indahnya jatuh cinta. Konon rasanya seperti ada seribu kupu-kupu yang berterbangan di perut dan tubuh terasa ringan, seakan sedang bersantai di pelukan awan. Bukan hanya itu! Segalanya kemudian jadi wangi dan indah. Lukisan alam kemudian jadi lebih cantik dari sebelumnya. Pelangi jadi punya ribuan warna, dengan gradasi yang saling bersahutan, meminta-minta perhatian.
Menurut mitos, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada jatuh cinta. Bahkan orang rela mati demi yang dicintai, tanpa merasa bahwa itu adalah tindakan yang kelewat batas. Akal sehat tiada, seperti masalah yang juga ikut menguap pergi. Cinta punya kekuatan yang lebih hebat daripada obat paling ampuh untuk penyakit paling akut di dunia: duka dan murka.
Maka aku ingin jatuh cinta. Aku mau merasa bodoh dan melakukan segala kekonyolan yang dilakukan dua insan yang dimabuk cinta. Aku ingin bisa merasakan keinginan untuk mengorbankan apapun yang kumiliki demi melihat seberkas senyum di wajah kekasihku. Tapi itu dulu. Jauh sebelum aku mengetahui bahwa jatuh cinta memang sungguh memiliki arti harafiah. Tak lebih dan tak kurang, jatuh, karena sebab apapun, pasti menyakitkan. Seseorang harus siap dengan lebam dan luka yang ditimbulkannya. Dan kalau kau siap jatuh cinta, maka demi Tuhan, kau juga harus siap dengan sakit yang ditimbulkannya.
Detik itu tak mungkin hilang dari ingatanku. Penantianku berakhir di detik itu. Sosok yang biasa, dengan kepribadian yang luar biasa. Senyum salah tingkah menjadi memori yang menandai pertemuan awal itu. Konyol dan tolol, sampai detik ini aku masih sering tersenyum-senyum sendiri bila mengingatnya. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan caranya memperkenalkan diri?
***
Dulu yang Jadikan Kini
"Chris," ujarnya sambil menyodorkan tangan.
"So, you're full name is Merry Christmas? Or is it Christmas Tree?" kataku bercanda.
Aku terlanjur gemas melihat mata birunya dan tak tahan untuk memberikan komentar yang akan membuatnya semakin salah tingkah. Mungkin sedikit memaksa, tapi menurutku komentar itu lucu sekali!
"No... no.... Not Merry or Tree, but White. White Christmas." Raut wajahnya sama sekali tak berubah saat ia mengucapkan kalimat itu.
Giliranku yang kebingungan. Harus pasang muka seperti apa untuk menanggapi nama seperti itu?
"Hahahaha.... No, just kidding. It's Christopher Morrison." Diiringi tawa sangat keras yang meledak dari mulutnya.
Aku yang sempat kebingungan, kemudian ikut tertawa bersamanya. Itu memori pertamaku tentang dia. Kalau tidak dipertemukan di sebuah welcoming party yang sangat membosankan, mungkin aku tidak akan punya kesempatan untuk mengenalnya sama sekali.
Chris bekerja di sebuah LSM internasional yang memberikan bantuan dalam pembangunan rumah-rumah penduduk yang terkena bencana gempa bumi di Yogyakarta. Mereka mengatur penggunaan dana bantuan yang diberikan oleh pemerintah Australia bagi para korban bencana di Indonesia. Pesta penyambutan yang super membosankan itu sebenarnya ditujukan untuknya dan beberapa kolega yang baru saja tiba di Jogja. Sayangnya, pesta itu tidak ditangani dengan serius, sehingga acara pun berlangsung sedikit basi. Untung saja pesta itu dipenuhi makanan-makanan enak khas Jogja. Pertemuan pertama kami pun terjadi di meja prasmanan. Setelah perkenalan yang aneh itu, kami menghabiskan malam dengan mengobrol di teras, sambil menikmati wedang jahe yang menghangatkan tubuh.
Malam itu jadi pembuka menuju suatu hubungan yang cukup membingungkan. Paling tidak bagiku. Hampir setiap hari setelah welcoming party itu, aku dan Chris menghabiskan waktu bersama-sama. Mulai dari nonton DVD bajakan di rumahnya, ngopi di cafe hingga makan nasi kucing di angkringan, Chris dan aku tak terpisahkan. Kami bicara tentang apa saja. Aneh, dulu aku selalu merasa bahwa orang yang berasal dari negara barat tentunya akan memiliki perbedaan prinsip yang cukup mendasar, dan oleh karenanya akan sulit sekali untuk berdiskusi dan mengobrol layaknya teman. Belum lagi soal gaya hidup dan kebiasaan. Dengan kata lain, aku terlalu banyak nonton film buatan Hollywood, karena ternyata kami berdua dapat bicara tentang apa saja. Apa saja! Di satu titik, aku bahkan merasa ia telah kukenal sepanjang hidupku.
Soal gaya hidup dan kebiasaan, aku menemukan beberapa hal yang cukup membuatku terkejut. Tentunya setiap orang memiliki kebiasaan masing-masing, namun seperti yang telah kukatakan, berkat budaya konsumerisme terhadap produk Hollywood, aku dikejutkan oleh beberapa hal yang meluluhlantakkan streotip yang telah terbentuk di kepalaku. Seperti saat kami makan malam berdua untuk pertama kalinya dan sebuah episode Friends terus-menerus terulang di kepalaku.
"Joey doesn't share food!" Kalimat itu menjadi peganganku selama makan malam berlangsung. "Jangan mengambil apapun yang ia pesan. Makan makananmu sendiri," ulangku dalam hati. Aku tidak ingin merusak citraku di dirinya. Namun apa yang terjadi? Saat main course dihidangkan, ia mengambil garpu dan mulai mencomot makanan dari piringku! As if that wasn't enough of a surprise, saat dessert, ia meminta dua garpu dan memintaku berbagi dengannya. Chris adalah seorang manusia, sama seperti aku. Itu momen di mana aku sungguh menyadarinya.
Chris adalah pribadi yang sangat mempesona. He's not a ladies man, tapi ia mengerti caranya membuat seseorang merasa sangat berarti. Lewat tatapan mata dan kata-kata yang dipilihnya, aku merasa mendapatkan sebuah kasur empuk yang membuatku tidur terlelap dengan aman di atasnya. Awalnya, hubungan kami terasa lebih menyerupai pertemanan dengan rambu-rambu tak kasatmata yang membuat kami bebas mengirim sinyal-sinyal tak terdefinisi ke satu sama lain. Sangat menyenangkan. Sebuah tantangan yang membuatku terus bergerak dan bangun dengan tersenyum. Ia menjadi salah satu alasan utamaku untuk membuka mata di pagi hari dan merasa bahagia.
Chris sukses mengubah segala pola pikirku tentang manusia putih yang jamak disebut "bule" di dalam khasanah bahasa informal yang dimiliki bangsa tercinta. Dengan naifnya aku sempat berpikir seorang bule akan dengan gampang melakukan hubungan seks, atau paling tidak mencoba mendapatkan kontak fisik dalam bentuk apapun. Untuk yang satu ini aku patut merasa malu dan menenggelamkan diri dalam pasir hisap, karena tidak sekalipun, dalam tiga bulan kebersamaan, Chris mencoba melakukan sesuatu kepadaku. Bahkan tidak ada usaha untuk merangkul atau bahkan memegang tanganku! Seorang teman bahkan menanyakan kepadaku apakah Chris adalah seorang gay karena ia tidak sekalipun mencoba menyentuhku. Aku menjawabnya dengan tawa. Aku tidak tahu jawabannya. Tapi sesuatu dalam diriku mengatakan bahwa bukan itu masalahnya.
Walau begitu kami terus berteman. Kami tetap mengobrol, saling mencomot main course, berbagi dessert, menatap dan tertawa. Kami adalah pasangan yang tak terdefinisi. Bukan puisi, karena tak ada bait yang cukup indah di dalamnya. Bukan juga sebuah lagu sendu, karena tak ada ekspektasi yang obsesif di dalamnya. Kami hanya sepasang manusia yang senang menghabiskan waktu berdua. Belum waktunya mendefinisi. Kami tidak ingin kehilangan kebersamaan itu. Paling tidak itu yang ternyata dirasakan oleh Chris, karena aku sibuk dengan diri yang semakin nyaman tenggelam dalam tatapnya.
Saat waktunya kembali merobek selembar lagi kertas kalender di tahun 2006, aku menyadari bahwa kedekatanku dengan Chris sudah berusia empat bulan. Jogja bukan kota yang besar. Tak sulit untuk mengetahui muka-muka yang berseliweran di dalamnya. Tak ubahnya bagiku dan Chris. Orang mulai menganggap kami sebagai sebuah entitas. Kesatuan yang tak terpisahkan. Sebut nama Chris dan otomatis aku pun tersebut. Begitu juga sebaliknya. Seperti sebuah nama panjang yang sama sekali tak masuk akal.
Maka saat seorang teman menanyakan apakah aku akan mengajak pacarku ke pestanya, aku pun tergagap.
"Siapa yang kamu maksud dengan pacarku?" tanyaku ragu, walau dengan semburat rasa yang membuat wajahku merona.
Saat yang sangat membingungkan, mengingat aku tak sepenuhnya mengerti cara mendefinisi hubungan kami. Raut wajahku tak tertebak. Jawaban sang teman tentunya bisa. Kejadian seperti itu terulang beberapa kali. Salah satunya bahkan terjadi saat Chris sedang bersamaku. Dan tanpa diduga, ia memberi jawaban yang sangat pasti terhadap ketidakpastianku.
"Oh no, you got the wrong idea here. We're just friends," Chris mengatakan kalimat terakhirnya dengan kemantapan yang membuatku bisa mendengar suara patah yang berasal dari dalam dadaku.
Dalam satu kalimat, Chris mendefinisikan kami. Bukan puisi, bukan lagu sendu. Kami hanya teman. HANYA.
***
Maka detik itu juga kuputuskan untuk melanjutkan hidupku. Kalau kami hanya teman, maka aku harus terus mencari cinta yang akan membuatku merasakan ribuan kupu-kupu yang akan membuat perutku kegelian. Setitik ngilu yang berasal dari dalam dada masih sempat terasa, namun kualihkan pikiranku ke hal yang lain. Chris terlihat begitu tenang, maka kuputuskan untuk bersikap sama. Tak ada gunanya bertanya. Aku sudah mendapatkan jawaban.
Aku tidak mengurangi intensitas pertemuan dengan Chris, namun setelah kejadian itu, aku juga tidak menutup kemungkinan untuk mencoba mengenal orang-orang yang ingin mengenalku lebih dekat. Salah satunya adalah Etienne, seorang Perancis, yang kebetulan bekerja di LSM tempat Chris bekerja. Etienne seseorang yang sangat baik. Lucu dan sangat impulsif. Jauh berbeda dengan Chris. Jiwa yang bebas dan tak kenal basa-basi.
Sekali waktu ia 'menculikku' dari sebuah pesta yang diadakan oleh Chris. Duduk berboncengan di atas Vespa bututnya, Etienne membawaku berkeliling setengah Kota Jogja. Kami tertawa-tawa dan benar-benar merasa bebas. Namun aku tidak merasakan 'klik' yang sama seperti yang kurasakan dengan Chris. Ah, siapalah aku untuk membandingkan dua manusia yang tak boleh dibandingkan itu? Aku hanya senang mendapat kesempatan untuk merasakan angin menerbangkan rambutku.
Sekembalinya ke tempat Chris, si Mata Biru itu sudah menunggu di teras rumahnya dengan wajah yang tidak terlalu bahagia.
"Where were you guys? I've been worrying sick. You didn't have a helmet on, you didn't even pick up my calls." Nada kecewa dan kesal jelas terdengar di suaranya.
"I didn't bring my phone with me, Chris. And everything's OK, we didn't go far," ujarku berbohong. Aku tidak mengerti mengapa Chris bersikap seperti itu. Setelah itu ia masuk ke rumah dan menghilang. Aku tahu di mana ia selalu 'menghilangkan' diri dari dunia, maka aku menyusulnya setelah berpamitan dengan Etienne.
"What's wrong, Chris? I'm OK. Etienne was nothing but nice to me. You have nothing to worry," ujarku berusaha menenangkan.
Aku tidak yakin betul apa yang sesungguhnya membuat Chris kesal. Ia hanya menatap ke arah langit dan tidak mengatakan apapun. Tiga puluh detik setelahnya kuhabiskan dengan mengagumi wajahnya. Ia sempurna. Entah hati yang menyempurnakan wajahnya, atau wajah yang menyempurnakan hatinya. Mata biru itu, yang membuatku terpana saat pertama kali berkenalan dengannya, kini nanar menatap bulan yang jauh tak terjamah.
"Ada apa, Sayang?" ujarku dalam hati. Betapa aku ingin mengucapkannya keras-keras.
"Christmas Tree, tell me what's wrong. I'm sorry for being so inconsiderable to you. But I didn't mean to worry you. I really didn't." Aku masih terus mencoba membuatnya bicara dan ia masih menatap langit kelam dengan kedua mata biru yang indah itu. Aku mulai putus asa. Maka aku putuskan untuk duduk di sebelahnya dan turut tenggelam dalam kemisteriusan malam.
Tanpa diduga ia mulai bicara, "It's not that. I was so jealous. I was crazy jealous when you went off with Etienne. I literally went numb and felt like I was going to die. I lost something that I couldn't even describe."
Jawaban itu membuatku tercekat. Cemburu? Bukankah kamu yang bilang kita hanya TEMAN?!
"There's something I haven't told you and it's killing me inside," lanjutnya lagi dengan suara terbata. Ia menarik pandangannya dari langit dan memandangku tepat di mata, bersiap untuk mengatakan yang ingin ia katakan. "I have a girlfriend back in Australia ," ujarnya setengah menggantung. Paling tidak kini aku tahu ia bukan gay. Aku tidak tahu mana yang lebih buruk. Aku kembali mendengar suara patah yang berasal dari dadaku. Kini ditambah sesuatu yang terasa menyempit di saluran pernafasanku. Aku seharusnya sudah tahu kalau ia punya seseorang di sana.
"Let me tell you why it's killing me. You are the reason I wake up every morning. To know that I would eventually meet you everyday keeps me sane. And there's nothing I want more than holding you tight in my arms. Please understand that I feel so guilty for this feeling, but I need to be honest," ujarnya mencoba menjelaskan.
Kali ini tidak menatap mataku. Aku masih tercekat dan merasa bahwa ini bagian dari mimpi yang sangat aneh. Entah mana yang membuatku lebih kaget. Kenyataan bahwa ia punya pacar, atau bahwa aku adalah alasannya membuka mata setiap hari.
Aku memutuskan untuk tidak mengatakan apapun. Kata-kata adalah ujung tombak kehancuran bila tidak dipilih dengan hati-hati. Maka aku hanya menyenderkan kepalaku di pundaknya. Berharap ia tahu bahwa aku merasakan hal yang sama. Berharap ia mendengar suara patah yang berasal dari dalam dadaku. Aku tidak akan bertanya mengapa atau bagaimana. Aku hanya ingin menikmati keheningan ini. Aku tidak butuh kata-kata untuk membuatnya mengerti. Itu sesuatu yang kini aku sadari.
Sepertinya Chris pun sudah tak lagi ingin mengatakan apapun. Ia tahu aku bersamanya. Tidak membencinya. Ia kecup dahiku dan memelukku. Kami berhenti bicara. Tak ada lagi yang perlu dikatakan. Bahasa tidak lagi cukup menjadi getaran yang membuat kami satu atau berbeda. Aku melihat diriku di matanya dan ia ada di dalam mataku. Aku tidak butuh apa-apa lagi. Tidak juga ruang untuk sebuah penyesalan atau rasa bersalah.
Malam itu kami terus berpelukan. Saat udara malam terasa semakin dingin, kami masuk ke kamar dan terus berpelukan tanpa suara. Kalau ada yang bertanya surga ada di mana, maka tanpa ragu aku akan menjawab, "Ada di sini. Di pelukan pria yang tak perlu kata-kata untuk membuatku merasa." Sungguh, malam itu aku hanya ingin bumi berhenti berputar dan membiarkannya menjadi milikku seseorang. Akhirnya aku merasakan kupu-kupu berterbangan di perutku. Geli. Geli yang sangat menyenangkan. Ah, aku ingin selamanya begini.
Namun hati nurani dan kejujuran rupanya memiliki kekuatan lebih dashyat dari hasrat untuk mencinta dan dicinta.
Dalam keterburu-buruan, Chris menyelesaikan penjelasan yang dari tadi nampaknya ingin ia akhiri, " I have an early flight to Bangkok tomorrow. I would only be gone for a week, but....."
Akhir yang menggantung dan aku tahu apa yang akan ia katakan, "But, it may change a lot of things. Right, Chris? It may let us hold each other like this every night or even draw that solid line between us."
Chris hanya mengangguk perlahan dan mendekapku lebih erat. Sudah kukatakan, kata-kata adalah ujung tombak kehancuran. Namun diam adalah kematian yang tak berujung. Tak ada yang lebih baik.
Keesokan paginya aku bangun tanpa Chris di sisiku. Harumnya masih menempel di sekujur seprai tempat tidur dan aku biarkan diriku tenggelam dalam harapan yang ringkih. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tak berani berharap dan tiada lagi kupu-kupu berterbangan di dalam perutku. Sebuah surat tergeletak di sisi tempat tidur. Tulisan tangan Chris.
My Dearest,
Let's not talk. Let's just wait.
Let's not define. Let time tells.
I will see you in a week.
I don't know what will happen, but you are my truth and I will see you again.
PS: How come you smell so good after an all night party?
Chris
***
Chris pulang seminggu kemudian.
Kami bertemu. Kami berpelukan dan membiarkan airmata membasahi pipi. Tak ada yang perlu dikatakan. Aku tahu yang terjadi. Aku tahu apa yang telah dipilihnya dan ia pun tahu apa yang telah aku pilih. Kini aku hidup dengan pilihanku dan aku tak pernah menyesalinya. Sesekali aku menengok ke belakang dan bersyukur. Aku rasakan tatap yang penuh makna, dekap yang penuh rasa. Aku telah menunggu dan kemudian mendefinisi. Ini kisahku. Biru dalam balutan sendu dan jingga dalam balutan rona. Mari ikut tertawa, karena cinta perlu dirayakan. ©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar